PERTEMUAN 2 — BAHAN AJAR PAI
Pertemuan 2 — Tauhid, Sifat-Sifat Allah, dan Fitrah Manusia Bertuhan
Capaian Pembelajaran
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep tauhid, menguraikan sifat-sifat Allah, serta menganalisis implikasi tauhid dalam kehidupan pribadi, sosial, dan akademik.
Tauhid berasal dari kata wahhada – yuwahhidu – tauhidan yang berarti mengesakan. Secara istilah, tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya, serta menjadikan-Nya satu-satunya yang disembah.
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah yang menjadi tumpuan segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”
(QS Al-Ikhlas [112]: 1–4)
Para ulama membagi sifat Allah menjadi dua kelompok besar:
Dalam Al-Qur’an, nama-nama Allah (asma’ al-husna) berjumlah lebih dari sembilan puluh sembilan. Dua di antaranya yang paling sering diucapkan seorang hamba adalah ar-Rahman dan ar-Rahim — Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Manusia dilahirkan dengan fitrah, yaitu kecenderungan asli untuk mengenal dan menyembah Tuhannya. Fitrah ini dapat tumbuh subur atau tertutup bergantung pada pendidikan, lingkungan, dan pilihan pribadi.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS Ar-Rum [30]: 30)
Adanya kerinduan universal manusia terhadap Sang Transenden — sebagaimana ditelusuri dalam psikologi agama — dapat dipahami sebagai bukti bahwa manusia memang makhluk bertuhan (homo religious).
Syirik menutup pintu ampunan jika pelakunya meninggal tanpa tobat, sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa’ [4]: 48.
muhammad@tahir.id
HTML Website Builder